Nabi Muhammad dalam
menjalankan kepemimpinan menerapkan pola-pola kepemimpinan yang sangat
dianjurkan oleh Islam. Pola-pola kepemimpinan rasulullah adalah :
1.
Human relation (hubungan
kemanusiaan)
Dalam menjalankan misi dakwah, Nabi
Muhammad selalu mengedepankan kebijakan-kebijakan untuk dapat menjadikan
teladan yang baik. Beliau sering melakukan silaturrhami dengan para sahabatnya,
bukan hanya dalam sabda-sabdanya tetapi juga dalam perilaku kesahariannya.
Muhammad saw telah memberikan pengaruh yang luar biasa pada kehidupan para
pengikutnya. Kemampuan dan gaya mengatur dan memimpin para pengikutnya sungguh
luar biasa. Para pengikutnya sangat mempercayainya, sebagai pemimpin yang
selalu menjadi pembimbing dalam berbagai masalah.
Kebesaran beliau
terletak pada kesederhanaannya dan kemuliaannya terletak pada keramahannya.
Predikat Rasul yang telah beliau sandang tidaklah menjadikannya sebagai orang
yang sombong, hidup dalam kemewahan bergelimang harta, tetapi beliau lebih
memilih hidup dalam kemiskinan dan kezuhudan. Beberapa catatan melukiskan
bagaimana beliau dan keluarganya terutama putri tercintanya Fathimah, merasakan
kelaparan hingga beliau sering mengikat perutnya dengan sebutir batu untuk
menekan rasa lapar. Semua hak istimewa dan karunia yang Allah berikan padanya
tidak membuat beliau untuk menyombongkan diri, beliau begitu sederhana dan
tetap mengatakan “kemiskinan adalah kebanggaanku”. Ia lebih bersifat low
profile, lebih suka berkumpul dengan orang-orang fakir miskin. Bahkan
sebagai seorang pemimpin negara, beliau biasa mendatangi masyarakat lapisan
bawah untuk silaturrahmi mempererat tali persaudaraan, sebagaimana beliau
sendiri juga merupakan bagian dari masyarakat itu.
Pelaksanaan
pendidikan ukhuwah (persaudaraan), yang pertama dilakukan oleh Nabi Muhammad
saw yakni mempersatukan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Untuk mempersatukan
kelurga itu Nabi Muhammad saw berusaha untuk mengikatnya menjadi satu kesatuan
yang terpadu yaitu Ikatan yang
menghubungkan antara hati mereka yaitu iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Beliau
meyakinkan kepada mereka bahwa “umat yang beriman itu bersaudara, karena itu
perbaikilah hubungan persaudaraan”. Maka
Nabi Muhammad saw. mengusahakan perbaikan sistem persaudaraan mereka yang semula
sering berselisih, saling bunuh dan sebagainya.
2.
Memelihara suasana dialogis.
pola kepemimpinan Nabi Muhammad saw.
yang telah dipraktikkannya, yakni sikap Nabi yang selalu toleran terhadap
siapapun. Di mana di dalamnya terdapat proses interaksi antara Nabi Muhammad
saw. dengan ummatnya. Hal ini sesuai dengan firman-Nya dalam surat An-Nahl ayat
125, yaitu:
Artinya:
serulah (manusia) kepada jalan
Tuhan-mu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya
Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya
dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Ayat ini
menggambarkan bahwa para pemimpin harus senantiasa mengedepankan suasana
dialogis dengan bersedia bertukar pikiran melalui cara yang lebih baik dengan
orang-orang yang dipimpinnya. Sikap seperti ini sering Nabi Muhammad saw.
Lakukan dalam kepemimpinannya. Suasana dialogis tersebut tumbuh dalam sebuah
kepemimpinan demokratis dengan ciri berusaha menyinkronkan antara kepentingan
dan tujuan, mengutamakan kerja sama dalam pencapaian tujuan, terbuka terhadap
kritik, mau menerima saran dan pendapat orang lain. Sikap-sikap seperti itulah
yang dilakukan Nabi Muhammad saw. ketika menerima kritik dan saran. Ini pernah
terjadi ketika ada peristiwa seorang sahabat mengkritik tentang sistem
pembagian harta ghanimah dari salah satu peperangan yang terjadi. Nabi
mendengar kritik ini dengan lapang dada walaupun kritik itu tidak benar.
Sikap terbuka
terhadap kritik dan mendengar pendapat orang lain beliau tunjukkan dalam proses
musyawarah yang menjadi ciri kepemimpinan beliau yang bersifat demokratis.
Allah telah memerintahkan Nabi Muhammad saw. Untuk bermusyawarah dengan para
sahabatnya dalam urusan-urusan penting dalam memperhatikan pandangan mereka
sebelum mengambil keputusan. Beliau memberikan teladan besar bagi para
pengikutnya dan menciptakan semangat demokrasi serta kejujuran di kalangan
mereka.
3.
Keteladanan (uswatun hasanah)
dan amar makruf nahi munkar.
Muhammad dalam kedudukannya sebagai
sang pendidik memiliki beberapa tugas spesifik dalam kaitannya dengan
pendidikan. Al-Quran yang merupakan visualisasi dari tugas yang harus
dijalankan Nabi, memuat ayat-ayat yang menguatkan misi kependidikan dalam
kepemimpinannya. Di kalangan muslim Muhammad dikenal dan diyakini sebagai Nabi
dan Rasul terakhir (penutup), dengan demikian tugas Nabi Muhammad menyampaikan
segala hal yang berkaitan dengan risalah terakhir di bidang akidah, ibadah dan
muamalah, melalui proses pendidikan.
Al-Quran bagi
Muhammad tidak sekedar kitab suci yang memberikan justifikasi kenabian terhadap
dirinya, lebih dari itu al-Quran merupakan penjelasan tentang konsep pendidikan
Tuhan bagi hambanya. (QS. An-Nahl: 44).
Internalisasi nilai-nilai edukatif
al-Quran yang dilakukan oleh Nabi tidak saja lewat nasihat dan pengajaran lain,
namun diri Muhammad sendiri menjadi contoh yang hidup bagi dasar-dasar
kepemimpinan dalam pendidikan yang dikembangkannya.
Apa yang ada dalam
lisannya sama dengan apa yang ada di dalam dadanya. Sehingga apapun yang diajarkan
oleh Muhammad segera diterima oleh para sahabat karena ucapannya telah diawali
dengan contoh konkret, teladan yang baik dan selalu mengajak yang makruf
mencegah yang munkar. Nabi Muhammad saw. Selalu menekankan pada umatnya untuk
beramar makruf dan menjauhi hal yang mungkar, sehingga seruannya didengar dan
dilaksanakan dengan sungguh-sungguh oleh umatnya.
POLA
KEPEMIMPINAN KHULAFAURRASYIDIN
1.
Abu Bakar
as Shidiq mempunyai karakter yang lemah lembut dan tegas. Dalam suasana yang kacau pemimpin yang berkarakter
seperti Kholifah Abu Bakar as Shidiq sangat diperlukan. Dengan kelembutannya, dapat menginsafkan
orang-orang terbujuk berbuat makar. Sementara orang-orang yang bersikap
merongrong dihadapi secara tegas oleh Abu Bakar as Shidiq.
Strategi yang dipakai abu bakar
as shidiq adalah:
a.
Menerapkan cara memimpin sebagaimana
yang diterapkan oleh Rasulullah SAW.
b.
Mengutamakan agama sebagaimana
beliau memberantas kaum musyrik dan orang yang ingkar terhadap zakat.
c.
Memecahkan masalah internal yang
terdapat di dalam kubu umat Islam pada masa itu.
d.
Setelah permasalahan ummat
terselesaikan barulah beliau meningkatkan pada lingkup yang lebih luas yaitu
permasalahan di dalam negeri.
e.
Dan pada akhirnya setelah
permasalahan di dalam negeri terselesaikan maka beliau memulai langkahnya ke
luar negeri dengan membebaskan beberapa daerah dengan tujuan penyiaran Islam
dalam ruang lingkup yang lebih luas.
2.
Kholifah
Umar bin Khattab ,mempunyai karakter : Cerdas,tegas dan mengutamakan kepentingan rakyat. Kecerdasannya Umar bin Khattab
sangat diperlukan untuk membangun dasar-dasar kemasyarakatan yang islami. Umar
bin Khatab dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan keras, sehingga beliau
mendapat julukan, “singa padang pasir”, dibawah kepemimpinanya Islam
berkembang dengan pesat karena beliau sangat banyak melakukan ekspasi, masanya
juga dikenal dengan, “futuhat al-islamiyyah” (perluasan wilayah Islam).
strategi
yang dilakukan Umar bin khattab adalah:
a.
Meneruskan perjuangan khalifah Abu
Bakar dengan memperluas wilayah Islam melalui ekspansi militer.
b.
Menertibkan administrasi Negara
dengan membentuk Baitul Mal.
c.
Menyusun kepala-kepala daerah karena
ketika itu wilayah Islam sudah sangat luas.
d.
Membentuk beberapa dawan dan
organisasi untuk mempermudah pemerintahan dan efektifitas tanggung jawab.
3.
Usman bin
Affan . Masa Usman bin Affan situasi sudah aman. Kemakmuran sudah tercapai di segenap lapisan
masyarakat. Dalam kondisi seperti itu, karakter
pemimpin yang shaleh, penyantun dan sabar sangat diperlukan. Dengan karakter seperti Kholifah
Usman bin Affan kemakmuran
rakyat tercapai, baik jasmani maupun rohani. Ustman bin Affan adalah
seorang yang kaya raya dan dermawan, pada masa Rasulullah SAW beliau menjadi
sekretaris Rasulullah SAW dan pada masa Abu Bakar beliau menjadi penasehatnya.
Strategi
yang dilakukan oleh Ustman bin Affan adalah:
a.
Membangun bendungan agar
terhindarnya banjir dikota-kota.
b.
Membangun jembatan-jembatan,
jalan-jalan serta berbagai infrasruktur yang memudahkan masyarakat ketika itu.
c.
Memperluas mesjid nabawi.
d.
Serta mengangkat orang-orang yang
dianggap mampu sebagai khalifah-khalifah di daerah dan mengisi jabatan penting
lainya.
4.
Ali bin
Abi Thalib. Sebagai masa peralihan dari Kholifah Usman bin Affan ke
Kholifah Ali bin Abi Thalib , kekacauan kembali terjadi. Dalam kondisi negara
seperti itu, karakter pemimpin
yang tegas dan
mengutamakan kebenaran sangat diperlukan. Khalifah Ali bin Abi Thalib
mempunyai karakter yang tepat. Ketegasan
Khalifah Ali bin Abi Thalib dalam membela kebenaran mirip dengan Khalifah Umar
bin Khattab. Selama masa kepemimpinannya banyak pergolakan-pergolakan
yang terjadi, hampir tidak ada hari-hari yang dianggap stabil.
Strategi yang dilakukan Ali bin
Abi Thalib adalah:
a.
Menonaktifkan pejabat yang diangkat
oleh Ustman bin Affan karena menurut beliau pemberontakan yang terjadi
merupakan sebab dari keteledoran mereka.
b.
Menarik kembali tanah-tanah yang di
hadiahkan khalifah Utsman bin Affan kepada penduduk dan keluarganya.
c.
Mengembalikan fungsi Baitul Mal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar