Kamis, 02 Juni 2016



Nabi Muhammad dalam menjalankan kepemimpinan menerapkan pola-pola kepemimpinan yang sangat dianjurkan oleh Islam. Pola-pola kepemimpinan rasulullah adalah :
1.      Human relation (hubungan kemanusiaan)
Dalam menjalankan misi dakwah, Nabi Muhammad selalu mengedepankan kebijakan-kebijakan untuk dapat menjadikan teladan yang baik. Beliau sering melakukan silaturrhami dengan para sahabatnya, bukan hanya dalam sabda-sabdanya tetapi juga dalam perilaku kesahariannya. Muhammad saw telah memberikan pengaruh yang luar biasa pada kehidupan para pengikutnya. Kemampuan dan gaya mengatur dan memimpin para pengikutnya sungguh luar biasa. Para pengikutnya sangat mempercayainya, sebagai pemimpin yang selalu menjadi pembimbing dalam berbagai masalah.
Kebesaran beliau terletak pada kesederhanaannya dan kemuliaannya terletak pada keramahannya. Predikat Rasul yang telah beliau sandang tidaklah menjadikannya sebagai orang yang sombong, hidup dalam kemewahan bergelimang harta, tetapi beliau lebih memilih hidup dalam kemiskinan dan kezuhudan. Beberapa catatan melukiskan bagaimana beliau dan keluarganya terutama putri tercintanya Fathimah, merasakan kelaparan hingga beliau sering mengikat perutnya dengan sebutir batu untuk menekan rasa lapar. Semua hak istimewa dan karunia yang Allah berikan padanya tidak membuat beliau untuk menyombongkan diri, beliau begitu sederhana dan tetap mengatakan “kemiskinan adalah kebanggaanku”. Ia lebih bersifat low profile, lebih suka berkumpul dengan orang-orang fakir miskin. Bahkan sebagai seorang pemimpin negara, beliau biasa mendatangi masyarakat lapisan bawah untuk silaturrahmi mempererat tali persaudaraan, sebagaimana beliau sendiri juga merupakan bagian dari masyarakat itu.
Pelaksanaan pendidikan ukhuwah (persaudaraan), yang pertama dilakukan oleh Nabi Muhammad saw yakni mempersatukan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Untuk mempersatukan kelurga itu Nabi Muhammad saw berusaha untuk mengikatnya menjadi satu kesatuan yang terpadu  yaitu Ikatan yang menghubungkan antara hati mereka yaitu iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Beliau meyakinkan kepada mereka bahwa “umat yang beriman itu bersaudara, karena itu perbaikilah hubungan persaudaraan”. Maka Nabi Muhammad saw. mengusahakan perbaikan sistem persaudaraan mereka yang semula sering berselisih, saling bunuh dan sebagainya.
2.      Memelihara suasana dialogis.
pola kepemimpinan Nabi Muhammad saw. yang telah dipraktikkannya, yakni sikap Nabi yang selalu toleran terhadap siapapun. Di mana di dalamnya terdapat proses interaksi antara Nabi Muhammad saw. dengan ummatnya. Hal ini sesuai dengan firman-Nya dalam surat An-Nahl ayat 125, yaitu:

Artinya:
serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Ayat ini menggambarkan bahwa para pemimpin harus senantiasa mengedepankan suasana dialogis dengan bersedia bertukar pikiran melalui cara yang lebih baik dengan orang-orang yang dipimpinnya. Sikap seperti ini sering Nabi Muhammad saw. Lakukan dalam kepemimpinannya. Suasana dialogis tersebut tumbuh dalam sebuah kepemimpinan demokratis dengan ciri berusaha menyinkronkan antara kepentingan dan tujuan, mengutamakan kerja sama dalam pencapaian tujuan, terbuka terhadap kritik, mau menerima saran dan pendapat orang lain. Sikap-sikap seperti itulah yang dilakukan Nabi Muhammad saw. ketika menerima kritik dan saran. Ini pernah terjadi ketika ada peristiwa seorang sahabat mengkritik tentang sistem pembagian harta ghanimah dari salah satu peperangan yang terjadi. Nabi mendengar kritik ini dengan lapang dada walaupun kritik itu tidak benar.
Sikap terbuka terhadap kritik dan mendengar pendapat orang lain beliau tunjukkan dalam proses musyawarah yang menjadi ciri kepemimpinan beliau yang bersifat demokratis. Allah telah memerintahkan Nabi Muhammad saw. Untuk bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam urusan-urusan penting dalam memperhatikan pandangan mereka sebelum mengambil keputusan. Beliau memberikan teladan besar bagi para pengikutnya dan menciptakan semangat demokrasi serta kejujuran di kalangan mereka.

3.      Keteladanan (uswatun hasanah) dan amar makruf nahi munkar.
Muhammad dalam kedudukannya sebagai sang pendidik memiliki beberapa tugas spesifik dalam kaitannya dengan pendidikan. Al-Quran yang merupakan visualisasi dari tugas yang harus dijalankan Nabi, memuat ayat-ayat yang menguatkan misi kependidikan dalam kepemimpinannya. Di kalangan muslim Muhammad dikenal dan diyakini sebagai Nabi dan Rasul terakhir (penutup), dengan demikian tugas Nabi Muhammad menyampaikan segala hal yang berkaitan dengan risalah terakhir di bidang akidah, ibadah dan muamalah, melalui proses pendidikan.
Al-Quran bagi Muhammad tidak sekedar kitab suci yang memberikan justifikasi kenabian terhadap dirinya, lebih dari itu al-Quran merupakan penjelasan tentang konsep pendidikan Tuhan bagi hambanya. (QS. An-Nahl: 44).
Internalisasi nilai-nilai edukatif al-Quran yang dilakukan oleh Nabi tidak saja lewat nasihat dan pengajaran lain, namun diri Muhammad sendiri menjadi contoh yang hidup bagi dasar-dasar kepemimpinan dalam pendidikan yang dikembangkannya.
Apa yang ada dalam lisannya sama dengan apa yang ada di dalam dadanya. Sehingga apapun yang diajarkan oleh Muhammad segera diterima oleh para sahabat karena ucapannya telah diawali dengan contoh konkret, teladan yang baik dan selalu mengajak yang makruf mencegah yang munkar. Nabi Muhammad saw. Selalu menekankan pada umatnya untuk beramar makruf dan menjauhi hal yang mungkar, sehingga seruannya didengar dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh oleh umatnya.



POLA KEPEMIMPINAN KHULAFAURRASYIDIN
1.      Abu Bakar as Shidiq mempunyai karakter yang lemah lembut dan tegas. Dalam suasana yang kacau pemimpin yang berkarakter seperti Kholifah Abu Bakar as Shidiq sangat diperlukan. Dengan kelembutannya, dapat menginsafkan orang-orang terbujuk berbuat makar. Sementara orang-orang yang bersikap merongrong dihadapi secara tegas oleh Abu Bakar as Shidiq.
Strategi yang dipakai abu bakar as shidiq adalah:
a.       Menerapkan cara memimpin sebagaimana yang diterapkan oleh Rasulullah SAW.
b.       Mengutamakan agama sebagaimana beliau memberantas kaum musyrik dan orang yang ingkar terhadap zakat.
c.       Memecahkan masalah internal yang terdapat di dalam kubu umat Islam pada masa itu.
d.      Setelah permasalahan ummat terselesaikan barulah beliau meningkatkan pada lingkup yang lebih luas yaitu permasalahan di dalam negeri.
e.       Dan pada akhirnya setelah permasalahan di dalam negeri terselesaikan maka beliau memulai langkahnya ke luar negeri dengan membebaskan beberapa daerah dengan tujuan penyiaran Islam dalam ruang lingkup yang lebih luas.

2.      Kholifah Umar bin Khattab ,mempunyai karakter : Cerdas,tegas dan mengutamakan kepentingan rakyat. Kecerdasannya Umar bin Khattab sangat diperlukan untuk membangun dasar-dasar kemasyarakatan yang islami. Umar bin Khatab dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan keras, sehingga beliau mendapat julukan, “singa padang pasir”, dibawah kepemimpinanya Islam berkembang dengan pesat karena beliau sangat banyak melakukan ekspasi, masanya juga dikenal dengan, “futuhat al-islamiyyah” (perluasan wilayah Islam).
strategi yang dilakukan Umar bin khattab adalah:
a.       Meneruskan perjuangan khalifah Abu Bakar dengan memperluas wilayah Islam melalui ekspansi militer.
b.      Menertibkan administrasi Negara dengan membentuk Baitul Mal.
c.       Menyusun kepala-kepala daerah karena ketika itu wilayah Islam sudah sangat luas.
d.      Membentuk beberapa dawan dan organisasi untuk mempermudah pemerintahan dan efektifitas tanggung jawab.

3.      Usman bin Affan . Masa Usman bin Affan situasi sudah aman. Kemakmuran sudah tercapai di segenap lapisan masyarakat. Dalam kondisi seperti itu, karakter pemimpin yang shaleh, penyantun dasabar sangat diperlukan. Dengan karakter seperti  Kholifah Usman bin Affan  kemakmuran rakyat tercapai, baik jasmani maupun rohani. Ustman bin Affan adalah seorang yang kaya raya dan dermawan, pada masa Rasulullah SAW beliau menjadi sekretaris Rasulullah SAW dan pada masa Abu Bakar beliau menjadi penasehatnya.
Strategi yang dilakukan oleh Ustman bin Affan adalah:
a.       Membangun bendungan agar terhindarnya banjir dikota-kota.
b.      Membangun jembatan-jembatan, jalan-jalan serta berbagai infrasruktur yang memudahkan masyarakat ketika itu.
c.       Memperluas mesjid nabawi.
d.      Serta mengangkat orang-orang yang dianggap mampu sebagai khalifah-khalifah di daerah dan mengisi jabatan penting lainya.

4.      Ali bin Abi Thalib. Sebagai masa peralihan dari Kholifah Usman bin Affan ke Kholifah Ali bin Abi Thalib , kekacauan kembali terjadi. Dalam kondisi negara seperti itu, karakter pemimpin yang tegas dan mengutamakan kebenaran sangat diperlukan. Khalifah Ali bin Abi Thalib mempunyai karakter yang tepat. Ketegasan Khalifah Ali bin Abi Thalib dalam membela kebenaran mirip dengan Khalifah Umar bin Khattab. Selama masa kepemimpinannya banyak pergolakan-pergolakan yang terjadi, hampir tidak ada hari-hari yang dianggap stabil.
Strategi yang dilakukan Ali bin Abi Thalib adalah:
a.       Menonaktifkan pejabat yang diangkat oleh Ustman bin Affan karena menurut beliau pemberontakan yang terjadi merupakan sebab dari keteledoran mereka.
b.      Menarik kembali tanah-tanah yang di hadiahkan khalifah Utsman bin Affan kepada penduduk dan keluarganya.
c.       Mengembalikan fungsi Baitul Mal.